TINTA HITAM

 Source: http://kemudian.com/node/90074

TINTA HITAM

Tanganku bergetar menerima bungkusan itu. Apalagi saat aku perlahan membukanya. Sehelai kemeja putih yang terlipat rapi, di atasnya ada sebuah undangan merah muda. Aku menepikannya dulu dan mengambil kemeja itu lalu merentangkannya di pangkuanku. Waktu rasanya berhenti sesaat melihat kemeja itu secara keseluruhan. Kemeja ini benar – benar putih, polos, tanpa saku. Tapi sesuatu ditumpahkan di situ secara sengaja untuk menodainya. Sejajar dengan kancing yang ke tiga dari atas, di sebelah kanan, noda hitam, mungkin berasal dari tinta, membekas di situ. Walaupun hanya sedikit, tapi warna hitamnya jelas saja sangat mempengaruhi pandangan terhadap kemeja yang sangat putih ini.
Lalu aku mengambil undangan merah muda yang tadi kupinggirkan. Walaupun aku sudah bisa menebak apa isinya, tapi tetap ada sesuatu yang masih segar melekat terasa seperti teriris. Perih sekali.
Ingatanku menerawang. Dia Tiara. Gadis yang sangat aku cintai. Pribadi yang selalu penuh dengan cinta dan keceriaan.
“Kamu tau, waktu cewek itu tau kalau kekasihnya memiliki harapan hidup yang tipis, dia berdoa sepenuh hati. Dia minta pada Tuhan supaya kekasihnya diizinkan untuk terus hidup.”
“Cowoknya mati ya?”
“Hush! Dengar dulu ceritaku, jangan memotong.” Dia menutup mulutku dengan tangannya yang wangi.
“Dia memohon supaya kekasihnya diberi kesembuhan. Bahkan seandainya bisa, dia rela menukarkan setengah hidupnya untuk hidup kekasihnya.”
“Kenapa cuma setengah? Kenapa nggak seluruh hidupnya aja yang ditukarkan? Katanya cinta!” Celetukku asal. Tiara hanya tersenyum.
“Sebenarnya dia ingin melakukan itu. Apapun akan dia korbankan demi kesembuhan kekasihnya. Tapi kalau dia menukarkan seluruh hidupnya, nggak akan ada lagi hidup yang tersisa untuk dia habiskan bersama kekasihnya.” Jawab Tiara tenang.
“Terus?”
“Terus…, dia juga berjanji. Kalau do’anya dikabulkan dan kekasihnya bisa sembuh, dia akan menerima dan mencintai seperti dulu, walau seburuk apapun keadaan kekasihnya.”
“Nggak mungkin buruk dong! Cowoknya kan ganteng, terus pintar lagi!” Bantahku. Lagi – lagi Tiara tersenyum.
“Kecelakaan itu menyebabkan luka bakar di sebagian tubuh kekasihnya. Apalagi wajahnya. Jadi jelek. Kecelakaan itu juga membuatnya amnesia, walaupun bisa disembuhkan, tapi butuh waktu yang sangat lama.”
“Wow! Lalu, tu cewek masih cinta?”
“Ya, karena dia sudah berjanji. Setengah dari hidupnya sudah tertukar dengan kesembuhan kekasihnya. Dan dia tak mungkin menyia – nyiakan setengah dari hidupnya yang sangat berharga itu. Mereka tetap melangsungkan pernikahan.”
“Kan cowoknya amnesia.”
“Memang iya, tapi itulah cinta. Cowok itu bilang; dia wanita yang sangat kuat sehingga Tuhan menjadikannya perantara untuk menyampaikan sebuah keajaiban padaku. Aku bisa hidup lagi. Di hari pernikahan, bahkan dia siapa, aku pun tak tau. Tapi aku sangat yakin, dia sangat mencintaiku, begitu pula aku. Hanya itu yang aku ingat saat itu.”
“Gitu ya ceritanya?” Tanyaku. Dia mengangguk.
“Manis kan?” Tanyanya. Cerita itu memang manis. Tapi menurutku lebih manis lagi senyum Tiara saat emanyakannya.
“Kalau seandainya yang dialami cowok itu terjadi padaku, kamu mau seperti cewek itu?” Tanyaku pelan.
Tiara menunduk lalu diam sesaat. “Aku pasti akan sangat merindukanmu.”
“Merindukanku? Berarti kamu akan pergi kalau itu terjadi?”
“Maksudnya bukan itu. Apa ya contohnya?” Dia berpikir sejenak.
“Contoh apa?”
“ Apa yang kalau tumpah di atas baju terus nggak akan bisa hilang?”
“Tinta.” Jawabku.
“Nah, tinta. Kamu tau kalau baju yang warnanya putih terkena tinta hitam?” Tanya nya.
“Tau, memangnya kenapa?”
“Tinta hitam pasti menodai baju itu. Apalagi warnanya putih. Walaupun sudah berkali – kali dicuci dan tintanya sudah hilang, tapi bekasnya tak akan pernah hilang. Akan selalu ada, kecuali kalau baju nya yang dibakar.”
“Lalu?”
“Seperti itu perasaanku ke kamu. Seandainya suatu saat ada yang membuatmu meninggalkanku, atau membuatku meninggalkanmu, atau sesuatu memisahkan kita sehingga kita nggak bisa bersama lagi, kamu kan akan pergi dari hidup aku, tapi kamu nggak akan pernah hilang dari hatiku. Kamu akan tetap membekas di hatiku, seperti tinta hitam di baju putih itu.”
“Ya, kamu kan mau cari pacar lagi. Jadi beli baju yang baru kan?” Aku menudingnya.
“Nggak gitu, baju itu ibarat aku, Tiara. Masa Tiara diganti sama Tiara yang baru. Cari pacar yang baru, diibaratkan seperti baju itu dicuci. Dicuci berapa kali pun, apapun jenis sabun yang di pakai, tapi bekas tinta nya nggak akan hilang kan?”
“Berarti berapa orangpun cowok yang menggantikan aku, seperti apapun penggantiku, aku akan tetap membekas dihati kamu. Kamu akan tetap sayang sama aku?”
“Ya. Kecuali kalau baju itu dibakar. Kecuali kalau aku udah nggak ada lagi. Perasaan untuk kamu ikut pergi bersamaku.”
Aku diam. Aku harap Tiara jujur. Aku bahagia sekali dengan isi pembicaraan kami barusan.
“Jadi kalau nanti kita nggak bersama lagi, kamu tetap jaga perasaan aku, ya. Jangan pamer pacar barumu di depanku. Secara aku masih mencintamu, itu pasti menyakitkanku. Aku tetap peduli sama kamu. Jangan ragu untuk datang ke aku. Walaupun saat itu kamu nggak punya siapa – siapa lagi, tapi ingat, kamu masih punya Tiara, walau dia bukan milikmu lagi. Mungkin aku tersenyum kalau kamu bahagia, yang pasti, aku lebih sakit kalau kamu terluka.” Dia menarik tanganku mengajakku berdiri. Beberapa detik kami diam, berdiri berhadapan dan saling pandang. Mahabesar Tuhan menciptakan makhluk secantik dia.
Tiara mendongak, kedua tangannya menggenggam di belakang punggungnya. Hal yang pasti dia lakukan bila akan mencium keningku. Dia menjinjit sedikit untuk menyamakan tingginya denganku, lalu mengecup lembut keningku dengan sayang. Setelah itu dia sedikit menggerakkan kaki kanannya ke depan. Kalau sudah begini, dia pasti akan memelukku.

Aku tersentak. Kenangan itu masih begitu segar dalam ingatanku. Semua kebiasaan dan hal tentang Tiara tak akan pernah bisa aku lupakan.
Aku kembali melihat kemeja itu, meraba tinta hitam yang telah mengering di situ. Aku tau mengapa Tiara memberikan ini padaku bersama undangan pertunangannya. Dia mengingatkan aku kalau dia masih mencintaiku, walaupun suatu hubungan serius sudah ada di depan matanya. Aku juga masih mencintainya, aku tak mau membuatnya ragu untuk melanjutkan salah satu langkah penting dalam hidupnya ini, aku akan datang, menghadiri acara pertunangannya. Walaupun aku tau, hatiku akan sangat berdarah berada di pesta itu.

Aku melangkah masuk ke ruangan itu. Indra, sahabatku, melangkah di sampingku. Undangan yang hadir tak begitu ramai, acara ini hanya untuk orang – orang dekat Tiara saja. Dan aku senang menjadi salah satu di antaranya.
“Lo yakin mau masuk dengan baju itu?” Indra bertanya pelan padaku. Aku mengangguk dan terus melangkah.
Beberapa orang yang kulewati melihat sejenak ke arahku, lalu melanjutkan pembicaraan mereka lagi. Tapi dua detik kemudian mereka akan melihat ke arahku lagi, memperhatikan pakaianku lalu tersenyum kecil, memandang heran, atau berbisik pada teman di sebelahnya untuk berbagi informasi. Semua itu tak mempengaruhiku.
Tiara berdiri di sudut ruangan, berbicara dengan beberapa orang tamu sambil sesekali tertawa. Seorang laki – laki berdiri di sampingnya. “Itu tunangannya.” Bisikku pada Indra.
“Tenang aja bro, lo lebih keren daripada tu cowok, jadi lo pasti bisa dapatin yang lebih daripada Tiara.” Indra menghiburku. Kalau tak ingat aku laki – laki, mungkin aku sudah menangis saat ini juga.
Tiara melihatku. Raut wajahnya berubah sejenak, tapi kemudian dia tersenyum lebar dan melambaikan tangannya memanggilku. Dia memakai gaun biru, warna kesukaannya. Wajah itu semakin bersinar, memancarkan aura khas yang dimilikinya. Senyum itu masih manis. Seperti dulu. Dia tak berubah, hanya saja, saat ini dia sangat cantik.
“Hai…” Dia tersenyum menyalamiku. Aku melihat gerak bibirnya, dia akan mengatakan sesuatu. Tapi urung karena melihat kemeja yang kupakai.
“Indra, apa kabar?” Tiara menyapa Indra yang dari tadi ada di sampingku sambil menyalaminya.
Lalu Tiara mengenalkanku pada laki – laki di sebelahnya. “Dia teman kuliahku dulu.” Kata Tiara. Tunangannya yang bernama Dimas itu mengangguk sambil tersenyum. “Kemeja yang bagus.” Komentarnya. Kalau saja tau apa maksud kemeja ini, dia tak akan mengatakan kalimat itu. Ekspresi wajah Tiara saat melihat kemejaku benar – benar tak bisa kutebak.
Aku sadar Tiara memperhatikan gerak – gerikku. Karena itu, setelah acara utama selesai, aku memutuskan untuk langsung pulang supaya tak ‘mengganggu’ perasaannya.

“Dit, menurut gue lo nggak boleh nyerah! Tiara kan masih cinta sama lo. Buktinya, buat apa dia kirimin lo kemeja itu. Apalagi, lo liat nggak ekspresi muka dia waktu liat lo pakai kemeja kotor itu!” Kata Indra berapi – api.
Aku diam saja. Berbaring di atas lantai, berbantalkan kedua tanganku. Sejak pulang dari acara pertunangan Tiara tadi sore sampai malam selarut ini, hanya itu yang aku lakukan. Hatiku benar – benar kalut. Tak bisa kupercaya, sebentar lagi Tiara akan pergi sangat jauh, memulai suatu hidup baru. Mataku berkaca – kaca dari tadi, tapi tak juga menangis.
“Dit, lo kan masih cinta. Jadi sekarang lo datang aja ke Tiara, bilang sejujurnya tentang perasaan lo. Cinta harus diperjuangkan! Dia baru tunangan, man! Belum nikah. Lo tau kan, tunangan itu cuma formalitas. Nggak ada dalam agama. Nggak ada tanggung jawab dalam hukum. Jadi lo masih punya kesempatan! Lo ingat film Get Married gak? Pernikahan dibatalkan justru pada detik – detik terakhir. Udah di depan penghulu lagi, eh malah nikah sama cowok yang lain! Apalagi Tiara. Masih lama nikahnya.”
Lagi – lagi aku tak mempedulikan perkataan Indra. Dia melihat malas ke arahku.
“Lo dari tadi sore nggak ada ngomong sama sekali. Emang tangan lo nggak kesemutan ya, dari tadi sore posisi baring lo nggak ganti – ganti? Ganti deh baju lo! Lo nggak akan bisa terhibur kalau lo masih pakai kemeja itu. Buat apa lo tau kalau Tiara masih cinta sama lo kalau kenyataannya seperti ini!” Kata Indra lagi. Tapi aku tetap diam. Indra tak tau, betapa saat ini aku patah hati. Hancur, remuk. Tak bisa aku gambarkan. Aku nelangsa.
Apa mungkin aku mengikuti saran Indra? Mengatakan pada Tiara bahwa aku mencintainya. Bukannya Tiara tau itu? Terlepas dariku, bukanlah sesuatu yang diinginkan Tiara. Kami masih saling mencintai saat dia mengakhiri hubungan kami.
“Dit, aku tau kamu seperti apa. Aku tau jalan pikiranmu. Aku tau jiwamu. Kalau kamu jadi pendamping hidupku, aku yakin hidupku tak akan menderita. Aku bisa tidur di atas kasur lembut tanpa harus memikirkan dari mana aku mendapatkan uang untuk makan besok pagi. Aku tau kamu akan melindungiku. Aku yakin kamu punya keinginan untuk maju. Hanya saja, saat ini nasib baik belum menghampirimu.”
Aku terdiam, aku tau maksud Tiara. Sampai saat ini, aku masih pengangguran, bergantung hidup pada orang tua dan belum punya penghasilan. Aku mengerti. Kami orang berpendidikan yang bisa berpikir dengan akal, tak hanya mengandalkan kalimat; hanya dengan bermodalkan cinta, hidup akan bahagia. Karena itu aku memilih untuk mengangguk dengan rela, bahkan tersenyum saat Tiara mengatakan kalimatnya yang menghempaskanku begitu menyakitkan.
“Seandainya saja orang tuaku memiliki pemikiran yang sederhana seperti aku. Tapi ternyata tidak, terlalu banyak hal yang mereka pertimbangkan. Aku yakin mereka tau yang terbaik untukku. Tapi kamu harus tau, yang terbaik untukku, belum tentu sama dengan apa yang mereka inginkan.”
“Dit…” Tiara memegang tanganku. “Kamulah yang terbaik untuk aku, tapi aku tak mau megecewakan orang tuaku.”
“Aku mengerti.” Jawabku singkat dan terdengar begitu tegar. Tiara tersenyum bahagia melihat sikapku.
“Aku bangga mencintai orang seperti kamu.” Dia meremas tanganku lalu melepaskannya. Untuk yang terakhir, dia mengecup lembut keningku, lalu pergi dengan senyum, dan airmata. Pertama dan terakhir selama menjadi kekasihnya, aku melihat Tiara menangis.
Tiara pergi, terlepas dariku. Jadi ini rasanya putus cinta? Untuk satu hari pertama aku tak merasakan apa – apa. Aku hanya membayang hal – hal yang lebih membahagiakan yang akan datang dalam hidup Tiara yang tak pernah dirasakannya selama bersamaku.
Tapi hari – hari berikutnya, saat aku tau betapa sepinya melewati hari – hari tanpa Tiara, baru aku sadar, aku sangat kehilangan, aku rindu, dan yang lebih menyakitkan, ternyata aku sangat membutuhkannya.

“DIT!!” Teriak Indra di telingaku, membuyarkan ingatanku pada masa lalu yang menyakitkan itu. “Jangan melamun terus, lo udah 8 jam kayak gitu. Nggak ngomong, nggak bergerak, nggak makan. Ntar lo bisa mati kaku!” Indra mengomeliku.
Aku duduk, Indra membantuku. Memang benar, seluruh tubuhku rasanya kaku. Untuk beberapa menit aku menggerakkan sendi – sendiku.
“Gue keluar sebentar.” Kataku sambil membuka pintu.
“Mau ke mana?” Tanya Indra.
“Cari angin!”
“Dit, lo jangan bunuh diri ya!”
“Tenang, gue tau hidup lo bakal hampa tanpa gue.” Jawabku asal
“Busuk lo!!” Maki Indra. Aku tersenyum kecil.

Aku terus melangkah menyusuri jalan sepi ini. Hampir jam 3 pagi. Aku merasakan setiap langkah yang kuambil, menarik nafas panjang, menikmati keheningan di sekitarku. Aku berhenti sejenak di persimpangan jalan. Berdiri tepat di ujung jalan, di bawah papan nama jalan ini. Berbalik, melihat jalan yang baru saja kulewati tadi.
“Radit!” Suara itu memanggilku seperti berbisik. Tapi terdengar begitu jelas di tengah kesunyian. Aku menoleh mencari asal suara.
Dia berlari kecil ke arahku. Tingginya sedikit lebih rendah dariku, berdiri tepat dihadapanku, begitu dekat, sehingga aku bisa merasakan hangat nafasnya di leherku.
“Udah satu tahun, ya?” Dia tersenyum. Aku mengangguk pelan. Berusaha untuk tenang. Sejak dia memutuskan hubungannya denganku hari itu, kami tak pernah bertemu. Kalau saja dia tak mengundangku ke acara pertunangannya, mungkin kami tak akan bertemu.
Ya, dia Tiara. Yang saat ini berdiri tepat di depanku.
“Kamu ngapain di sini?” Tanyaku.
Dia tertawa kecil. “Memang ini yang sering aku lakukan.”
Aku ikut tertawa. Dulu, saat masih denganku, Tiara tau persis kebiasaanku kalau sedang marah dengannya. Aku tak bisa tidur semalaman, dan menjelang pagi aku keluar rumah untuk menenangkan pikiranku. Dan dia selalu menungguku di ujung jalan rumahku untuk minta maaf padaku. Dia melakukan itu berkali – kali sehingga aku hafal kebiasaannya.
Kami kembali terdiam. Tiara memperhatikan noda hitam di kemeja yang kupakai, yang belum kuganti dari tadi sore. Dia menyentuhnya dengan tangannya yang lembut, meraba bekas tinta yang mengering itu.
“Aku tak menyangka kamu akan memakai kemeja ini.” Suaranya bergetar hampir menangis.
“Sekedar menghibur diri, mengingatkan diriku kalau aku masih punya seseorang saat aku merasa benar – benar kehilangan segalanya. Bahkan semangat hidup.”
“Ya, kamu masih punya dia. Tiara. Walau kamu bukan miliknya lagi.” Katanya pelan.
“Tiara, terserah apa pendapatmu. Tapi aku bahagia untukmu.”
Tiara mengangguk, menangis. “Aku tau kamu jujur. Aku tau kamu seperti apa. Aku yakin, kamu juga akan bahagia seperti aku.” Katanya di tengah isakannya. Ingin rasanya aku menghapus air matanya lalu memeluknya. Menenangkannya, aku tau dia pasti takut aku tak mencintainya lagi. Tapi aku tak mau mebuat kenangan bersamanya lagi. Karena sangat sulit melupakannya.
Tangannya masih ada di kemeja yang kupakai. Memegangi noda hitam yang sangat berarti untuk kami itu. “Tinta ini…” Katanya terputus.
Tiba – tiba aku geram melihatnya. Membayangkan betapa aku mencintainya, dan menerima kenyataan bahwa seseorang telah memilikinya. Padahal rasa di hatinya untukku masih seperti dulu.
“Tiara, sudahlah. Ini hanya warna hitam! Sesuatu yang buruk, gelap, sepi, suram, menyakitkan…” Tiara menghentikan kata – kataku dengan meletakkan telunjuknya di bibirku. Tangisnya semakin menjadi.
“Semua itu tergantung cara kamu memandanganya. Hitam yang ini adalah cinta.” Katanya. Aku diam menyadarinya.
Tiara mendongak, kedua tangannya menggenggam di belakang punggungnya, mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tapi dia urung melakukannya. Wajahnya menjauh lagi. Diganti dengan kedua tangannya , memegang dan membelai wajahku. Aku bisa merasakan pancaran kasihnya. Tiara tak jadi mencium keningku, aku tersenyum. Aku tau, walau tak ada di sini, tapi Tiara menghormati tunangannya. Dia wanita baik – baik.
“Tiara, aku bangga mencintaimu.” Kataku.
“Hanya itu?” Tanyanya.
“Tidak hanya itu. Dua bulan yang lagu aku baru saja mendapat promosi jabatan.”
Tangis Tiara menjadi mendengar kalimat terakhirku. “Kenapa nggak dari dulu…” Sesalnya
“Ssst…! Jangan menyesal, kita tegar, melangkah ke depan.” Kataku menyeka air matanya. Tiara mengangguk.
“Aku pulang, jaga dirimu.” Katanya sambil sedikit menggerakkan kaki kanannya ke depan. Tapi urung lagi. Dia mundur.
“Kamu pantas dengan kemeja ini!” Katanya lalu berbalik dan pergi. Aku tak bergerak dari tempatku sampai sinar lampu mobilnya benar – benar hilang dalam gelap.
Aku melanjutkan langkahku. Bahagia, lega dan kecewa. Satu cinta lagi telah pupus di bumi ini. Satu lagi hati terluka, satu lagi hati berkoban, demi cinta.
Tapi besok, akan ada satu cinta lagi. Satu kisah cinta lagi. Aku akan mencuci kemeja ini. Walaupun tak akan menghilangkan bekas tintanya, tapi setidaknya akan menjaganya supaya tetap berseri dan seperti baru.
Aku berhenti melihat kemejaku. Memegang noda hitam itu. Noda yang sangat berarti bagiku dan Tiara. Yang hanya kami berdua yang tau apa makna di baliknya. Aku tersenyum puas mengingatnya, lalu melanjutkan langkahku.
Tiara adalah warna baru bagi dunia, dan duniaku.
Hitam tak selamanya buruk. Karena Tiara, hitam itu cinta, yang putih. (Tanjungpinang, 13 Februari 2008;00.19)

Post a Comment